Apa Specialty Coffee Itu?

Akhir-akhir ini perkembangan kopi di Indonesia maju dengan pesat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya coffee shop yang bermunculan di kota-kota besar di Indonesia, dari coffee shop berskala kecil sampai skala besar. Pertumbuhan bisnis kopi di Indonesia tak lepas dari meningkatnya kualitas kopi yang dihasilkan oleh petani kopi Indonesia. Kualitas kopi yang baik inilah yang dinobatkan sebagai specialty coffee atau kopi specialty.

Istilah “Specialty Coffee” pertama kali dicetuskan oleh Erna Knutsen dalam Tea & Coffee Trade Journal di tahun 1974. Knutsen menggunakan istilah tersebut untuk mendeskripsikan biji kopi dengan kualitas rasa terbaik yang diproduksi di daerah dengan mikro-iklim yang spesifik (curah hujan, paparan cahaya matahari, dsb).

Salah satu cara yang paling kenal dari proses pembuatan Specialty Coffee adalah “Petik Merah”. Pengertian dari petik merah adalah sebuah metode pencabutan buah kopi dari pohon dengan cara dipetik satu persatu, yang hanya dipilih dari buah kopi yang sudah matang. Hal ini kemudian membuat biji kopi yang dihasilkan dari buah merah ini memiliki kualitas yang sangat baik.

Berdasarkan standar Specialty Coffee Association (SCA), kopi yang memiliki nilai 80 atau diatasnya dalam skala maksimal 100, mendapatkan predikat ‘specialty’. Penilaian biji kopi dilakukan oleh seorang Q-Grader yang bersertifikat dan diakui secara internasional. Kopi specialty dihasilkan di daerah yang memiliki iklim yang ideal. Untuk urusan rasa, tentu saja kopi specialty memiliki citarasa yang lebih tinggi serta kompleks dibandingkan dengan kopi komersial pada umumnya. Keunikan rasa kopi specialty ini juga dipengaruhi oleh tanaman pelindung, komposisi dan karakteristik tanah dimana kopi tersebut dihasilkan.

Syarat sebuah kopi bisa disebut sebagai Specialty Grade adalah:

  1. Perkebunan dikelola dengan cara organik. Hal ini tidak menjadi ukuran mutlak, karena masih banyak juga Specialty Coffee yang dihasilkan dari perkebunan non organik.
  2. Petik Merah. Petani hanya memetik buah kopi yang berwarna merah saja, yang kemudian diproses menjadi green bean.
  3. Memiliki total defect <4%. Jika dalam 1kg green bean specialty coffee, maka total defect atau biji rusak tidak boleh lebih dari 40g.
  4. Memiliki nilai cupping test >80. Tidak semua kopi bisa mendapatkan nilai >80, hanya kopi special yang diolah dengan cara yang tepat saja yang dapat mendapatkan score diatas 80.

Specialty Coffee dari segi harga, tentu saja memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan kopi komersial. Hal ini disebabkan oleh proses produksi kopi specialty itu sendiri, mulai dari pemilihan varietas kopi yang paling cocok ditanam di tanah dan iklim tertentu, perawatan pohon kopi, proses pemetikan biji kopi, proses pasca panen, cara pengemasan, sampai distribusi biji kopi yang siap disangrai.

Di Indonesia sendiri sudah banyak daerah yang menghasilkan kopi specialty yang kualitasnya sudah dikenal hingga mancanegara. Dari Sumatra ada kopi Gayo dan Mandheling, dari Jawa ada kopi dari Bandung Utara dan Selatan, dari Bali ada kopi Bali Kintamani, dari Sulawesi ada kopi Toraja, dari Nusa Tenggara ada kopi Flores Bajawa, dari Papua ada kopi Papua Wamena.

Indonesia juga memiliki Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) yang didirikan pada tahun 2008.

Dengan adanya predikat kopi specialty tentu saja dapat meningkatkan taraf hidup petani kopi Indonesia, dimana harga kopi yang mereka jual bisa memiliki harga yang lebih tinggi dari harga kopi komersial dan mendapatkan apresiasi yang baik dari para pecinta dan penikmat kopi di tanah air.

%d bloggers like this: